Bersosial media dengan tujuan yang jelas

Cover image

Sekitar hari sabtu atau 2 hari sebelum tulisan ini dipublikasikan, tiba-tiba ada sebuah kalimat yang muncul di pikiranku pas aku baru bangun tidur.

"Hate the people, not the platform"

Buat kalian yang belum kenal sama aku. Perkenalkan, aku adalah seorang manusia yang suka deaktif-aktif sosial media. Yang suka dikit-dikit baper ketika dikatain dan iri ketika melihat pencapaian orang lain di sosial media. Yah, apa adanya ajalah. Ngga perlu ditutup-tutupi lagi.

Oke lanjut.

Jadi pas dapet kalimat itu, langsung aku tulis di microblog ku biar ngga lupa. Dan aku langsung kontak salah satu teman dekatku yang merupakan seorang Junior UX Designer, yaitu si Ahmad Zar Rinaldi. Karena menurutku, mungkin aku bisa dapet validasi tentang kalimat yang aku dapet ini dari seorang yang profesinya men-desain produk digital.

Singkat cerita, kami pun ngobrol sampai sekitar 2 jam tentang hal ini. Dan obrolan kami ini sebenarnya mostly berdasarkan opini pribadi saja ditambah dengan sedikit pengetahuan dan sumber yang diketahui oleh masing-masing dari kami. Karena jelas, kami bukan ahlinya.

Tapi ada beberapa poin yang menurutku penting dari obrolan kami yang berdurasi kurang lebih 2 jam itu.

Didesain untuk membuat kecanduan

Sebenarnya produk digital itu didesain untuk menjadikan kita adiktif dalam menggunakannya. Atau dengan kata lain, kita selalu ingin kembali menggunakan produk tersebut. Atau konsep ini dikenal dengan Hooked (link here..).

Diambil dari buku Nir Eyal (Link Here...) yang berjudul Hooked, konsep ini menjelaskan tentang bagaimana membuat produk yang membentuk suatu kebiasaan (Habit-forming product). Yang kemudian terbentuk sebuah siklus yang disebut siklus Hook atau Hook Cycle.

Siklus Hook terdiri dari 4 tahap yaitu trigger, action, reward, dan investment. Aku bakal coba jelasin secara singkat tentang setiap tahapannya.

Yang pertama ada trigger. ketika ingin meraih pengguna untuk pertama kalinya, kita membutuhkan sebuah pemicu atau trigger. Sesuatu yang mendorong pengguna untuk menggunakan produk kita. Contoh pemicunya adalah "merasa bosan". Biasanya ketika merasa bosan, pengguna akan membuka aplikasi Instagram untuk mengobrol atau melihat aktifitas terbaru dari teman-temannya.

Kedua ada action. Tujuan dari pemicu adalah untuk menjanjikan sebuah hadiah dan mendemonstrasikan bagaimana cara untuk mendapatkannya. Dan action adalah tahapan selanjutnya setelah mendapatkan pemicu atau trigger. Buka Instagram, scroll timeline, lihat gambar-gambar kucing yang lucu, akhirnya bosan pun hilang. Nah itu adalah contoh dari tahap action.

Ketiga ada reward. Setelah mendapatkan pemicu dan kemudian melakukan aksi, pengguna kemudian akan mendapatkan reward atau hadiah dari aksi yang mereka lakukan. Entah itu perasaan bahagia karena melihat foto lucu, video yang menghibur, atau sesuatu yang berguna.

Yang terakhir yaitu investment. Kemudian setelah mendapatkan hadiah yang diinginkan, kepercayaan pengguna terhadap produk kita akan meningkat. Mereka akan merasa produk kita adalah tempat dimana mereka bisa mendapatkan hadiah yang mereka inginkan secara terus-menerus. Akhirnya mereka pun menginvestasikan waktu, tenaga, dan apa yang mereka punya untuk menggunakan produk kita.

Membuat kita menjadi tidak tahan untuk tidak membukanya walau hanya dalam waktu yang sebentar. Dan karena tidak memiliki tujuan yang jelas dalam menggunakan produk atau aplikasi tersebut, menjadi membuang-buang waktu yang seharusnya bisa kita alokasikan untuk menyelesaikan pekerjaan kita yang tujuannya jelas.

Jika konteksnya kita spesifikan ke sebuah aplikasi, Instagram misalnya. Jika memang tidak memiliki tujuan yang tidak jelas, maka akhirnya kita hanya akan menerima informasi yang tidak kita butuhkan secara terus-menerus.

Teman kita yang memamerkan karyanya, yang sedang berlibur, sedang merayakan wisuda. Atau mungkin info terbaru tentang youtuber yang videonya trending. Terus menerima semua informasi itu sampai akhirnya merasa kelelahan dan malas akibat terlalu banyak informasi yang masuk.

Jika dengan tujuan yang jelas, maka secara otomatis pikiran kita juga akan berperan sebagai filter dari semua informasi yang kita dapat. Hanya informasi yang benar-benar kita butuhkan saja yang akan diproses, sedangkan yang lainnya akan diabaikan.

Pada akhirnya kita lah yang mengontrol alat yang kita gunakan, bukan kita yang dikontrol oleh mereka.

Dunia maya (tidak) sama dengan dunia nyata

Mungkin karena sudah banyak penggunanya dan mulai bermunculan pekerjaan-pekerjaan yang bisa dilakukan di dunia maya seperti berjualan online, pembuat konten (content creator), programmer, dan lain-lain membuat kebanyakan orang menghubung-hubungkan dunia maya dan nyata.

Contohnya hubungan pertemanan di dunia nyata yang disamakan dengan yang di dunia maya.

"Kamu ada masalah apa sama aku?"

"Lah ngga ada masalah apa-apa kok, kenapa kamu tanya begitu?"

"Itu kamu unfollow ig aku."

Itu adalah salah satu contohnya. Permasalahan dunia maya yang mungkin sebenarnya sepele, dihubung-hubungkan dengan keadaan di dunia nyata. Sehingga membuat permasalahan itu menjadi serius. Pertanyaanku adalah

Apakah sekarang syarat untuk berteman harus saling mengikuti di Instagram?

Bagaimana menurutmu jika kondisinya udah saling mengikuti di Instagram atau sosial media lainnya tapi kenyataannya dia hanya datang ke kita saat ada perlunya saja?

Terkadang sesuatu yang kita bagikan di sosial media entah itu pencapaian, foto ketika jalan-jalan, dan foto berkumpul bersama teman belum tentu disukai oleh semua orang.

Dan kita juga ngga bisa maksain semua orang buat suka sama kita,

iya kan?

Dan jika mereka tidak menyukai apa yang kita bagikan, yang mereka lakukan bisa jadi mute postingan kita atau mungkin bisa jadi berhenti mengikuti. Gapapa, itu kehendak mereka yang ngga bisa kita larang. Jadi menurutku ndak perlu diambil hati.

Dan menurutku, dengan adanya tujuan yang jelas. Misalnya untuk berbagi ilmu yang didapat untuk teman-teman, kita juga harusnya menjadi tau apa saja hal negatif yang kemungkinan bisa terjadi kepada kita dan gimana cara mengatasinya.

Penutup

Jadi menurutku dan berdasarkan obrolan yang aku lakukan dengan temanku. Dengan adanya tujuan yang jelas dalam melakukan sesuatu terutama saat menggunakan produk digital seperti sosial media, kita jadi bisa memfilter semua informasi yang kita dapat untuk dikonsumsi.

Tentunya juga membuat kita mengurangi perasaan baper ketika menghadapi suatu hal yang terjadi kepada kita dan yang bukan, karena ya semua hal yang ada dunia maya belum tentu sama dengan di dunia nyata.

Off course, ini semua hanya murni pendapat pribadiku dan hasil obrolanku dengan temanku. Hanya sebagian dari keresahan yang aku rasakan ketika menggunakan produk digital terutama sosial media.

Sebenarnya aku belum membaca buku Hooked yang aku tulis di paragraf sebelumnya, tapi hanya mendapatkan kesimpulannya dari temanku yang udah baca dan dari beberapa tulisan orang lain yang ada di internet.

"Udah cerita panjang-panjang, emang apa tujuan lu make sosmed nyet?"

Tujuanku saat ini menggunakan sosmed adalah sebagai sumber belajar dan sumber informasi dari hal-hal yang ingin aku tau aja, nggak semua hal.

Persetan cerita bahagiamu dan liburanmu.

Sumber : 1. Hooked Summary 1 2. Hooked Summary 2