Empty your cup

Cover image

"Kamu nggak bisa belajar apapun ketika kamu ngerasa udah paham duluan"

Itu adalah kalimat yang selalu aku coba inget-inget dari dulu sampe sekarang. Karena memang menurutku faktanya begitu.

Semakin kita bertambah tua, kita mengisi cangkir kita dengan pengalaman dan pengetahuan kita di masa lalu. Ketika seseorang datang dan mencoba untuk memberikan pengetahuan baru atau nasehat, kita langsung otomatis berpikir bahwa dia akan merubah tentang apa yang selama ini kita percayai dan pelajari.

Dia akan menuangkan teh di cangkir kita yang sudah penuh!

Oleh karena itu, teh yang dituangkan oleh orang tersebut tidak dapat masuk lagi ke dalam cangkir kita. Pikiran kita akhirnya menolak pendapat orang itu. Seolah-olah tidak memerlukan pendapatnya padahal mungkin itu pengetahuan baru buat kita.

Sebenarnya tanpa disadari, saat itu kita sedang belajar. Ya, belajar bisa dilakukan dimana saja dan kapan saja. Bahkan dengan mengamati kucing yang lewat di depan rumah saja itu sudah merupakan salah satu cara belajar. Termasuk berdiskusi dengan orang lain.

Dan nenurutku, salah satu masalah belajar adalah merasa sudah paham duluan sebelum mencari dan mencoba. Seperti cangkir yang sudah penuh dan tidak dapat diisi lagi. Merasa sudah benar-benar paham dan tidak perlu penjelasan lagi.

Karena merasa sudah cukup, akhirnya menjadi malas belajar atau mencari tau lebih dalam lagi, tidak bisa menerima pendapat orang lain, dan dengki ketika orang lain berhasil dalam suatu hal yang kita merasa paham betul disana.

Ngga bakal paham hanya dalam sekali duduk

Programmer ga bakal paham tentang konsep Pemrograman Berorientasi Objek atau DOM pada JavaScript hanya dalam waktu semalam atau sekali duduk saja.

Perawat ga bakal paham tentang bagaimana cara menyuntik pasien hanya dalam sekali praktek.

It takes time, bruh.

Udah paham gimana caranya menciptakan dan menempatkan objek dengan lokasi yang acak? bagus, coba uji pemahaman tersebut dengan menuliskan kembali dengan bahasamu sendiri atau mengimplementasikan ilmu tersebut ke dalam projek kecil.

Disini kita akan belajar memvalidasi tingkat pemahaman tentang pengetahuan yang kita dapat. Kalo masih belum paham juga, ulangi belajarnya. Sampai akhirnya bisa mengimplementasikan atau menjelaskan ulang tentang apa yang dipelajari.

Be curious

Selalu penasaran dengan segala hal. Perbanyak bertanya daripada membuat argumen sendiri untuk melawan argumen orang lain. Jujur pada diri sendiri kalau sebenarnya belum paham tentang hal itu.

Kenapa dia ngomong kayak gini?

Kenapa kok bisa jadi kayak gini?

Apa yang terjadi kalo kucing satu kandang sama anjing?

Menjawab pertanyaan yang muncul di pikiran sendiri juga termasuk belajar. Dan ketika menemukan jawabannya, bakal muncul rasa lega dan senang karena bisa menjawab pertanyaan tersebut.

Pencapaian kecil ini yang bakal membuat semangat belajar bertambah. Dan mungkin juga merupakan salah satu implementasi dari empty your cup.

Mencoba terbuka dengan pendapat orang lain

Coba katakan terima kasih ketika orang lain memberikan pendapat atau nasehatnya kepadamu. Bahkan jika kamu merasa pendapat dia tidak sesuai dengan pemikiranmu, berterimakasih kepada orang tersebut menyebabkan dirimu secara internal menjadi lebih terbuka untuk mendengarkan apa yang mereka katakan.

Begitu pula jika orang tersebut memberikan respon "Pendapatmu itu salah!", berterimakasih dan minta dia untuk menjelaskan dimana letak kesalahannya. Entah dia memilih untuk melakukannya atau tidak, itu terserah dia. Setidaknya kita sudah terbuka untuk diskusi dan berbagi.

Jadi cobalah untuk menerima pemikiran dan pendapat baru. Bahkan jika kamu nggak setuju, setidaknya kamu bisa mengerti sedikit tentang hal itu.

Dan juga ketika orang lain sedang menjelaskan tentang pendapatnya, coba diam dan dengarkan. Ketika dia selesai berpendapat lalu buatlah argumen dan jelaskan. Jangan membuat argumen dan menjelaskan dengan cara memotong di tengah penjelasan orang tersebut.

Selain akan menyakiti orang tersebut, kamu akan terlihat seperti orang yang sok tahu dan menyebalkan. Aku yakin pasti kamu pernah ngerasa kayak gini.

Semakin berisi, semakin merunduk. Betul ngga?

Penutup

Btw, judul dari tulisan ini aku ambil dari potongan bio milik seseorang di twitter. Beberapa hari yang lalu sebelum aku deaktif akun twitter, Aku lagi scroll tab following ku dan berhenti di kalimat itu.

Karena penasaran, aku coba cari tentang makna dari kalimat itu. Kemudian muncul berbagai macam tulisan yang membahas tentang kalimat itu.

Salah satunya yaitu ini.

Bercerita tentang seorang Guru Zen yang bijak, orang-orang seluruh penjuru dunia datang untuk meminta bantuannya. sebagai gantinya, dia akan mengajari mereka dan mempraktekkan tentang Zen.

Zen adalah gaya hidup simpel yang mengutamakan keharmonisan antara tubuh dengan pikiran.

Kemudian datanglah seorang pelajar yang pintar dan berpendidikan. Dia meminta sang guru mengajarinya tentang Zen. Kemudian sang guru menceritakan cerita tentang dirinya secara berulang-ulang sampai sang pelajar merasa terganggu dengannya. Dia memprotes sang guru karena hal itu, kemudian sang guru menyarankan untuk minum teh bersama-sama.

Kemudian si guru menuangkan teh ke dalam cangkir tamunya tersebut. Cangkirnya pun terisi, sampai penuh namun dia tidak berhenti menuangkannya. Kemudian akhirnya teh tersebut tumpah hingga jatuh ke lantai dan mengenai baju si pelajar. Si pelajar pun berteriak "Stop! cangkir itu sudah penuh, apa anda ngga liat?"

"Betul" jawan si guru sambil tersenyum. "Kamu seperti cangkir ini, sudah penuh dengan pengetahuan dan ide sehingga tidak dapat menampung lagi yang baru. Kembalilah kesini dengan cangkir yang kosong."

Yaps, kurang lebih kayak gitu cerita yang aku baca.

Tanpa pikir panjang, aku langsung coba untuk buat tulisan dan membagikannya. Tentu saja aku menerima kritik dan saran dari kalian. Kalo ngerasa ada yang kurang atau salah, yuk kita ngobrol. Here's my contact.

Aku membuat tulisan ini buat validasi atau mengecek ulang apa aku dah paham tentang makna kalimat empty your cup.

Jadi ini pendapatku tentang makna kalimat "Empty your cup".

Kamu punya pendapat lain? Diskusi yuk!