Back to Home

My KKN Journey in Brief

February 01, 2020

It's about teamwork

Ditulis pada 7 hari sebelum penarikan…

Menurutku udah pantas untuk diceritain sih pengalaman ini. Setidaknya buat reminder ke diri sendiri kalo pernah punya cerita semasa KKN.

Disini ga bakal cerita tentang hal teknis seperti tentang program kerja, dana pengabdian, ataupun matriks pelaksanaan.

Karena aku bukan Dosen Pembimbing Lapangan. Hahaha just kidding, i’m sorry :D

Cuman mau berbagi tentang apa yang aku dapatkan dan rasakan selama hampir satu bulan ini.

Tinggal di lingkungan yang baru, dengan kultur budaya dan kebiasaan dari warga yang tentunya asing buatku. Ditemani dengan teman-teman baru yang berbeda jurusan, daerah, dan umur. Memaksaku untuk beradaptasi dan belajar dengan cepat.

Aku tergabung dalam kelompok 114, dengan komposisi 3 laki-laki dan 7 perempuan. Awalnya skeptis dengan komposisi ini. Tapi setelah dijalani, Alhamdulillah banyak banget hal baru dan bermanfaat yang aku dapat.

Berlokasi di Dusun Sawah, Krambil Sawit, Saptosari, Gunung Kidul. Daerah dengan kondisi geografis yang sedikit menantang. Berbukit-bukit, jalannya banyak banget tikungan tajam, dan dengan penerangan jalan yang kurang. Tapi Alhamdulillah lagi, masyarakatnya sangat bersahabat dan bikin nyaman untuk tinggal lebih lama disini.

Kepentingan kelompok diatas kepentingan pribadi

Ditempatkan pada sebuah kelompok berisi orang-orang baru dengan sifat yang berbeda-beda membuatku belajar tentang bagaimana menurunkan ego diri sendiri demi kepentingan bersama.

Kebetulan aku ditempatkan di divisi publikasi dan dokumentasi, yups semua tentang foto, video, dan desain. Bersama salah satu perempuan dari kelompok ini.

Pada awal terbentuk kelompok ini, aku berpikiran bahwa aku akan menangani semua hal ini dan mencoba meringankan tugas dari temanku yang satunya (sok pahlawan banget emang si labil ini). Padahal ndak ada dasar tentang desain grafis sama sekali.

Dari siang sampai malam, berhari-hari mencoba membuat desain yang cocok untuk akun sosial media kelompok. Mulai dari mencari referensi, bertanya teman, hingga berselancar di dunia maya. Dan akhirnya mulai mencoba membuat, lalu selesai. Ku serahkan ke mereka untuk mengecek desainku.

Ternyata temanku yang satunya ikut ngedesain juga, dan lebih bagus dari punyaku. Sempat ingin mengumpat, eh gak jadi. Karena mikir baru mau mulai, kok udah mau ngajak berantem aja.

Akhirnya aku mengalah, dan sisi positifnya malah akun sosial media kelompokku menjadi lebih bagus dan berwarna berkat desain yang dibuat oleh mereka. Thanks ya kalian berdua!

Sifat ini terbawa sampai saat ini, dimana ketika ada keputusan yang lebih baik dari keputusanku, aku bakal mengalah. Nggak memaksakan kehendak pribadi, karena mungkin menguntungkan untuk diri sendiri, tapi belum tentu untuk orang lain dan sekitar.

Jadi orang bodoh setiap hari

Berada di lingkungan baru, pasti ada banyak hal yang belum diketahui juga.

Aku dulu orangnya sok pinter. Merasa tau semuanya karena sering membaca (karena membaca adalah jendela dunia, atau buku? lupa aku).

Akibatnya aku jadi sering menyendiri dan jarang melakukan kontak dengan sekitar karena merasa tidak ada yang perlu dibicarakan.

Sampai akhirnya sadar kalau dunia itu luas, pengetahuanku masih belum seberapa. Akhirnya mencoba mengembangkan kebiasaan ini. Selain bisa tahu tentang hal baru, bisa juga untuk basa-basi membuka obrolan atau berkenalan dengan orang baru.

Selalu menjadi gelas yang kosong yang siap untuk diisi dengan apapun!

Tentang menjadi pendengar yang baik

“Kita diberikan dua telinga dan satu mulut, tandanya kita harus lebih banyak mendengarkan daripada berbicara.”

Aku lupa mendapatkan istilah ini darimana, tapi selalu teringat tentang ini.

Terkadang orang bercerita itu tidak butuh solusi dari kita, tapi hanya membutuhkan untuk didengarkan ceritanya. Itulah yang aku percaya sampai sekarang.

Aku selalu suka mendengarkan cerita dari teman-teman sekelompok, baik cerita bahagia atau sedih. Apapun itu, mereka punya cerita yang selalu asik dan nyaman untuk didengarkan.

Tentang cinta

Gaada apa-apa.

Hanya baper karena overdosis perhatian dari lawan jenis. Semoga apa yang dia kerjakan dan lakukan selalu diberi kelancaran dan kemudahan, Aamiin.

Many things happen to me, ada yang baik dan buruk. Ngga semuanya bisa diceritakan disini. Semua cuman bisa disyukuri karena setidaknya sudah pernah mencoba dan mengalami.

Kalo kata Bung Fiersa Besari “Kadang kala tak mengapa, untuk tak baik-baik saja. Kita hanyalah manusia, wajar jika tak sempurna.”

Thanks for stopping by, semoga harimu menyenangkan!


Hello, I'm Afwa Bagas Wahuda. Welcome to my personal blog!
I write about anything that pop out from my head. Written in Bahasa Indonesia.