Merasa Sendiri

Merasa Sendiri

Di tulisan ini saya akan sedikit bercerita tentang apa yang saya rasakan beberapa bulan terakhir ini.

Akhir-akhir ini saya merasa seperti tidak punya teman sama sekali. Saya merasa seperti tidak ada lagi pertanyaan tentang kabar saya sekarang atau mengirim pesan ajakan ngobrol secara online ataupun ngobrol offline. Bukan berarti saya ingin diperhatikan. Bukan, masih kurang tepat.

Dulu waktu awal-awal masuk perkuliahan, saya bisa dibilang adalah orang yang paling aktif dalam mencari teman. Saya mencoba berkenalan dengan banyak orang, ikut menjadi salah satu pengurus dalam himpunan mahasiswa jurusan dan saya bersyukur bisa mendapatkan banyak sekali teman dari situ.

Ditambah sejak dari semester 3, saya mencoba menjadi asisten dosen. Saya juga mendapat banyak sekali teman dari situ.

Kemudian sekarang saya mencoba untuk perlahan menghapus semua koneksi itu.


“Kenapa? Kok gitu sih?”


Banyak alasannya, mulai dari karena masalah minat kita yang berbeda sampai karena mereka merupakan distraksi bagi saya.

Ya, distraksi.

Mereka mengatakan, melakukan, mengajarkan saya dengan hal yang saya tidak berminat untuk menanggapinya bahkan melakukannya. Yang saya anggap bahwa hal itu bukannya bermanfaat untuk saya malah mengalihkan saya dan menghalangi saya untuk melakukan hal yang saya inginkan dan mencapai tujuan yang ingin saya capai.


Perlahan lingkaran pertemanan saya mulai mengecil.


Pelan-pelan saya mulai merasa sendiri. Ditambah saya memiliki akun Instagram yang berisi tentang kebahagiaan teman-teman saya yang sedang menikmati hidup bersama teman-temannya.


Ah, poor me. That’s why i want to delete my instagram, but i can’t.


Tapi dari situ saya mendapatkan beberapa kenikmatan akibat perasaan “Merasa Sendiri”.


Do everything what i like, no one will care about it

Saya dapat melakukan apapun yang saya ingin lakukan. Seperti minum coklat panas, menyusun puzzle, bermain tic-tac-toe, memberi makan siput. Hahaha, i’m just joking.

Nggak ada yang bakalan peduli dengan apa yang saya lakukan atau saya kerjakan. Akhirnya saya bisa fokus mengerjakannya tanpa memikirkan apa kata orang lain.


Waktu luang yang lebih banyak

“Cuy, nongkrong yuk. Ada warkop baru buka deket kosku nih!”

“Yuk, ngapain disana?”

“Nongki-nongki santai aja kita”

(sambil melakukan hal useless, ngecengin lawan jenis misalnya)

Bukannya apa, waktu yang saya punya tidaklah banyak. Banyak hal yang masih ingin saya eksplor, dan bukan tentang mencari perhatian lawan jenis tentunya.

Saya penasaran tentang bagaimana cara membuat filter di instagram, memperbaiki error yang saya buat kemarin, menyelesaikan buku yang sedang saya baca, bahkan mencari tau kenapa buah stroberi warnanya menjadi merah ketika matang.

Dan saya juga butuh tidur.

Bisa memiliki waktu luang lebih yang bisa digunakan untuk menyelesaikan hal yang perlu diselesaikan adalah nikmat bagi saya.


Tidak terlalu sibuk memikirkan orang lain

Maksudnya bukan jadi nggak peka ya, tapi menurunkan intensitas memikiran perasaan dan keadaan orang lain dan mengalihkan itu untuk lebih fokus memikirkan diri sendiri.

Nanti malam mau makan dimana?

Makan apa?

Sama siapa?

Jam berapa?

Sepele sih, tapi dengan memikirkan ini jadi secara tidak langsung belajar untuk memperhatikan suatu hal secara detail. Bahasa gaulnya kalo nggak salah itu Paying attention to detail.


Dari beberapa hal diatas mungkin saya lebih mengarahkan untuk lebih memperhatikan diri sendiri, love myself. Dan memang tulisan ini sengaja saya buat untuk diri saya sendiri. Sebagai pengingat ketika saya mulai stress lagi karena gaada yang nanyain kabar hahaha.

Thanks for stopping by!
I love you myself.