All Articles

Melarikan Diri ke Dieng

Aku mau cerita tentang hal yang agak jauh dari coding. Sedang ingin yang namanya jauh dari laptop dan code editor. Mencoba mencari suasana yang sedikit tenang dan mengistirahatkan otak sejenak. LDR dulu sama laptop.

Jadi gini ceritanya. Aku berasal dari Lampung dan sekarang sedang melanjutkan studi di Yogyakarta. Aku mempunyai teman-teman seperjuangan yang berasal dari pulau yang sama denganku yakni pulau Sumatera. Dulu waktu semester 1, kami sering berkumpul di Java Market seberang kampus (Anak UMY pasti tau). Hingga akhirnya kami jarang bertemu dikarenakan kesibukan masing-masing. Singkat cerita, kami dipertemukan kembali di Kopi DST. Disana kami pun mengobrol dan tertawa bersama. Melepas rindu lah ceritanya, hahaha.

Kemudian salah satu dari kami ada yang nyeletuk seperti ini “Besok waktu hari terakhir liburan, kita main ke dieng bareng-bareng yuk!“. Spontan kami semua terkejut dan ada beberapa yang langsung mengiyakan dan ada yang “pikir-pikir dulu deh” termasuk aku juga. Aku yang memang dari awal liburan tidak pernah keluar dari kamar kos karena lagi asyik oprek-oprek Javascript dan React. Tiba-tiba ingin merasakan jauh dari laptop walau hanya sehari aja. Ingin rasanya keluar mencari udara segar tapi yang jauh sekalian.

Dan hari yang dinanti pun tiba, waktu itu uangku pas-pasan. Hanya ada 3 lembar uang 50.000-an di dompet. Dengan berat hati, aku bilang sama mereka kalau nggak jadi ikut karena uangku tidak cukup untuk iuran sewa mobil dan bensin. Langsung si Sabil (btw dia udah punya istri) mengirimiku pesan di WhatsApp yang isinya “jangan takut, nanti ditalangin sama yang lain. Ikut aja ya?“. Tanpa pikir panjang, aku pun mengiyakan. Dan akhirnya jadi jalan-jalan deh, Yey!

Kami janjian untuk berkumpul di ATM Center Kampus UMY jam 11 malam. Aku sampai tepat waktu di lokasi janjian. Disana sudah ada si gendut Luthfi, Syahdani, si putih Soleh, dan Arif yang merencanakan untuk berangkat naik motor, mau Touring sih katanya. Kami berlima menunggu selama satu jam. Karena mobil sewa kami datangnya telat. dan akhirnya kami berangkat pada pukul 12:30 malam dengan total 12 orang menggunakan 1 mobil dan 3 motor. Didalam mobil ada sekitar 8 orang termasuk aku. Kerasa banget sempitnya sampai-sampai kaki tidak bisa bergerak.

Aku coba menghibur penduduk didalam mobil bersama Miftah dengan menyanyikan beberapa lagu yang kami hafal (termasuk K-Pop). Suasana menjadi hangat dan penduduknya bisa tertawa lepas. Waktu menunjukkan pukul 2 malam, kami memutuskan untuk istirahat sebentar di Indomaret untuk membeli minum dan makanan ringan.

Kemudian kami melanjutkan perjalanan. Dikarenakan Aka belum bisa menavigasi dengan baik, Kami melalui jalan yang amat kecil dan mengerikan. Disini akhirnya Sabil menunjukkan keahliannya dalam mengendarai mobil. Sangat ciamik sekali waktu dia mengendarai mobil melewati jalan yang sempit dan curam. Dan akhirnya pada jam 4 pagi, kami sampai di tempat bertemu dengan mereka yang naik motor. Yakni di Masjid Agung Wonosobo.

Disana kami istirahat sejenak. Meluruskan kaki yang sudah tertekuk sekitar 4 jam dan tidak bisa bergerak sama sekali. Dan kemudian kami melanjutkan perjalanan ke tempat tujuan. Udaranya mulai terasa dingin sekali, sangat dingin. Dan akhirnya kami sampai di lokasi tujuan. Hanya dengan membayar 10.000, kami sudah bisa menikmati pemandangan indah yang ada di Dieng. Target kami adalah menyaksikan sunrise di Puncak Sikunir. Kami mengambil wudhu dengan air yang ada disana. Ternyata airnya dingin banget, kaya kamu. Kemudian kami shalat shubuh dan langsung bergegas menuju Puncak Sikunir.

Namun, semua berubah ketika udara dingin mulai menyerang dan curamnya jalan menuju keatas. Aku yang dari lahir belum familiar dengan “mendaki” dan mencoba untuk pertama kalinya, akhirnya langsung terasa sesak di dada dan kepala pusing. Mungkin karena belum bisa mengatur nafas ya hahaha. Merasa kalah dengan nenek-nenek yang naik berbarengan denganku.

Dan ternyata teman-temanku mengalami hal yang sama, DASAR ANAK KOTA, LEMAH! Hahahaha. Akhirnya kami tidak melanjutkan untuk naik sampai puncak. Yah foto-foto disini aja deh, udah lumayan tinggi kok. Dan pemandangannya memang langsung bikin pikiran jadi rileks, melupakan beban dunia yang sangat banyak termasuk SKRIPSI. Kami berfoto ria, ada teman yang sedang bikin konten buat youtube dan instagramnya. Ada yang jadi kameramen sejati, sedikit muncul di foto karena dia yang motoin.

Puncak Sikunir

Selesai menikmati pemandangan dan mengambil gambar, kami memutuskan untuk turun. Seketika sampai dibawah, ada Arif dan Luthfi yang udah memesankan tempat duduk untuk kami untuk sarapan. Kemudian kami memesan semangkuk soto dan gorengan yang luar biasa ajibnya. Kuah soto nya berwarna putih hampir seperti susu tapi gurih. Dan gorengannya masih hangat, baru aja keluar dari penggorengan menambah hangatnya suasana. Kami ngobrol dan tertawa sangat keras, saking kerasnya sampai pengunjung lain yang berada di dekat kami langsung memperhatikan. Mau dibilang aneh atau kampungan juga bodo amat, toh kami juga kalau kumpul di lain tempat juga bakalan rame jadinya.

Setelah selesai makan, kami bergegas turun untuk kembali ke mobil. Next Destination adalah Telaga Tiga Warna.

Telaga Tiga Warna

Dan aku ketiduran di mobil bersama Miftah sehingga nggak ikutan masuk kedalam. Tepat jam 10 pagi, kami memutuskan untuk kembali ke Yogyakarta. Kami singgah sejenak di Warung Makan Sate Pengkol. Disitu aku menemukan menu yang cukup asing buatku, Mie Ongklok namanya. Tanpa pikir panjang aku langsung pesan, karena penasaran. Kuahnya kental, mie nya lembut, ada kol dan sayuran yang lain, Wuenak sih ini. Setelah selesai makan, kami pun melanjutkan perjalanan.

Kami sampai di Yogyakarta sekitar pukul 4 sore. Kemudian melanjutkan perjalanan ke Pantai Parangtritis untuk menikmati sunset bersama. Dan akhirnya sampai di rumah masing-masing pada jam 8 malam.

Kepanjangan ya? maafin aku ya, lagi pengen nulis soalnya.