One Week No Instagram and Twitter

Menikmati dunia nyata

Sudah seminggu ini saya tidak aktif di Instagram dan Twitter. Bukannya sok sibuk, tapi memang saya sengaja untuk tidak membuka kedua platform tersebut. Nggak dipengaruhi dengan orang lain, artikel, video motivasi, ataupun quote. Ini semua murni keinginan saya sendiri. Karena sangat mempengaruhi keseharian saya, yah saya merasa seperti itu karena mengalaminya.

Ketika sedang menyelesaikan tugas di laptop, tangan saya selalu otomatis mengetikkan huruf t dan w di address bar browser. Itu merupakan dua huruf awal dari twitter.

Kemudian ketika saya meletakkan hp disebelah laptop saya pun tidak dalam waktu yang lama, tangan saya langsung mengambilnya dan secara tidak sadar mencari letak aplikasi Instagram ataupun Twitter.

Ketika bangun tidur pun tangan saya langsung mencari letak hp saya, membukanya, dan langsung mencari letak kedua aplikasi tersebut. Awalnya saya tidak merasa aneh sama sekali, namun lama kelamaan saya merasa seperti setiap 5 menit saya harus membukanya.

Akhirnya saya meng-uninstall keduanya.

Saya menyisakan telegram dan whatsapp karena keduanya penting untuk berkomunikasi dengan orang disekitar saya. Saya juga menambahkan Quora untuk menjadi tempat bacaan saya selagi saya sedang diluar dan tidak membawa buku.

Kemudian selama seminggu kemarin, saya merasakan hal yang berbeda.

Bisa memfokuskan pikiran ke tugas yang ingin diselesaikan
Ini menurut saya merupakan dampak yang sangat menguntungkan buat saya. Sebab berkaitan juga dengan alasan yang ada diatas tentang keadaan saya sebelumnya. Saya tidak merasa gelisah lagi karena tidak mengecek hp saya selama 5 menit sekali. Dan saya bisa mengerjakan tugas yang ingin saya selesaikan dengan tenang.

Dari sini juga saya ingat tentang sebuah ayat dari surah Al-Insyirah,
yakni ayat 7.

“Maka apabila engkau telah selesai (dari sesuatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain).”

Jadi menurut saya dengan berdasarkan ayat tersebut adalah selesaikan dulu sebuah urusan sampai tuntas, sampai tujuan yang dibuat di awal tercapai, barulah berpindah ke urusan lain. Tidak ada yang namanya multitasking, itulah yang saya percayai sampai sekarang.


Tidak cepat merasa pusing
Sosial media memberikan info kepada kita sangat banyak, banyak sekali. Bahkan info yang tidak saya butuhkan pun ada disana. Teman saya sedang liburan, Gebetan saya yang dulu sudah punya pacar baru. Akhirnya pikiran saya kebanjiran informasi, dan penuh yang kemudian membuat saya cepat pusing (Itu yang saya alami sampai sekarang).

Selama seminggu ini, pikiran saya terasa jadi lebih ringan karena hanya diisi oleh apa yang saya lakukan, makanan apa yang ingin saya makan, tempat yang akan saya kunjungi, ya semua tentang saya.


Tidak terpengaruh oleh keadaan orang lain
Melanjutkan dari poin kedua, tentang banyaknya informasi terutama dari teman sekitar saya yang saya ikuti di sosial media. Melihat pencapaian yang mereka capai membuat saya iri, walaupun itu bukanlah pencapaian yang ingin saya raih.

Isi pikiran saya menjadi negatif. Saya jadi cepat marah, tidak sabaran, mudah iri dengan pencapaian orang lain, dan malas. Tidak bisa mengontrol emosi akibat sudah dimasuki pikiran negatif duluan. Ya sampai sekarang masih begitu sih. Belum ada perubahan, tapi saya bersyukur karena sudah sadar memiliki sifat-sifat itu. Will reduce it soon, hehehe.

Itulah beberapa hal yang saya rasakan selama seminggu ini. Alhamdulillah banyak manfaat baiknya yang saya dapatkan. Dan ini murni pendapat saya sendiri berdasarkan yang saya alami. Dan saya juga tidak sepenuhnya meninggalkan sosial media, hanya tidak sesering dulu.

Makasih banyak sudah mampir, maaf curhatnya jadi kepanjangan.