All Articles

Pengalaman Saya ketika Menjadi Asisten Dosen

Well, Hello kawan.

Gimana kabarnya? Semoga tetep sehat ya. Saya bakalan berbagi tentang pengalaman saya menjadi asisten dosen dan sedikit cerita tentang perjalanan dan alasan saya gimana kok bisa jadi asisten dosen sampai sekarang.

Jadi, awal saya berkeinginan menjadi asisten dosen itu adalah ketika bertanya pada asisten dosen yang dulu pernah ngurusin kelas saya. Iseng awalnya bertanya kepada mereka “Apa sih enaknya jadi asisten dosen?“. Dan jawaban mereka adalah “Enak kok jadi asisten dosen, bisa ngecengin adik tingkat yang cantik, bisa lebih dekat sama adik tingkat, dapet gaji lagi!”

Tertarik dengan penjelasan tersebut, akhirnya saya membulatkan tekad untuk mendaftar menjadi asisten dosen. Di semester ketiga pun saya mencoba mendaftar menjadi asisten dosen. Kemudian Alhamdulillah-nya saya terpilih untuk menjadi asisten dosen mata kuliah Sistem Operasi.

Mata kuliah ini berfokus mempelajari tentang sistem operasi seperti Windows dan Linux (untuk linux, di jurusan saya belajarnya tentang Ubuntu). Kebetulan mata kuliah ini adalah mata kuliah favorit saya di semester 1. Sehingga saya pun sudah faham apa saja materi yang nanti akan dibawakan di kelas oleh dosen saya.

Jadi ya saya mulai menjalani kehidupan ngasdos saya dengan menemani dosen saya didalam kelas sembari membantu mahasiswa yang masih pusing dengan error dan menjelaskan materi yang belum jelas menurut mereka selama mereka mengikuti mata kuliah ini. Lalu kemudian karena kinerja saya yang “menurut mereka” bagus, saya direkomendasikan untuk mendaftar di semester selanjutnya. Ya akhirnya saya pun menerima tantangan dengan mendaftar untuk menjadi asisten dosen pada mata kuliah yang menurut saya sulit tapi saya suka, yaitu Algoritma dan Struktur Data.

Dan saya sangat menikmati ini…

Cukup dulu cerita perjalanannya, kemungkinan kisah ini bakalan berlanjut karena saya masih semester 6 pada saat artikel ini ditulis.

Apa saja yang saya dapat selama saya jadi asisten dosen?

Well, saya jelasin yang jelek-jelek dulu aja. Soalnya menurut saya “Yang bagus-bagus itu ngasih tau nya belakangan aja, biar jadi happy-ending”.

1. Sering dikerjain atau dicuekin sama adik tingkat pada saat dikelas

Ini yang paling nyebelin sih menurut saya, jadi ketika sedang mereview materi didepan kelas pada saat sesi praktikum. Banyak dari mereka yang tidak memperhatikan dan melakukan aktivitas lain seperti main game, tidur, ngobrol, dan lainnya.

Merasa seperti tidak dihargai itu pasti, tapi disini kesabaran saya akan dilatih dengan rutin. Hal ini mungkin yang merubah saya dari orang yang cepat marah menjadi orang yang “yuk diomongin baik-baik dulu aja, kita selesaikan masalah ini dengan kepala dingin”.

2. Jadwal jadi lebih padat

Ini bakalan jadi masalah sekaligus pengalaman yang sangat berarti menurutku. Karena dengan menjadi asisten dosen, waktu libur kuliah akan tersita. Waktu bermain dengan teman akan berkurang karena harus mengawas ujian, mengoreksi tugas, ketemu dosen, membuat jadwal ujian, membantu adik tingkat yang kesusahan. Disini skill manajemen waktu saya diuji, mulai dari menentukan prioritas sampai membuat sebuah keputusan yang nantinya bakal berdampak baik ataukah buruk buat diri saya.

Semenjak saat itu, saya berprinsip “Selesaikan dulu yang deadlinenya paling mendesak atau prioritasnya lebih tinggi baru yang lain”. Jadi kalau misal mengoreksi tugas adik tingkat itu deadlinenya lebih lama daripada tugas kuliah, maka saya pilih untuk menyelesaikan dulu tugas kuliahnya. Setelah selesai, baru lanjut mengoreksi tugas adik tingkat. Karena saya sadar, saya orangnya ngga bisa multitasking.

Nah sekarang baru yang bagus-bagus, biar keliatan happy-ending buat artikel ini.

1. Mengulang mata kuliah tapi nggak bayar, alias gratis!

Ini adalah keuntungan paling besar ketika saya menjadi asisten dosen, yaitu saya bisa mengulang lagi mata kuliah semester yang sudah lewat. Mendapatkan penjelasan dua kali terhadap sebuah materi itu adalah anugerah terindah (menurut saya).

2. Kenal dengan adik tingkat, menambah koneksi buat masa depan.

Menurut saya, kenal adik tingkat itu penting. Karena kita nggak bakal tau siapa yang akan menolong kita dimasa yang akan datang. Apalagi bisa menemukan yang cocok dihati, itu nilai plus yang menurut saya bakal berefek jangka panjang.

3. Mendapatkan tambahan uang jajan

Kalau di Jurusan saya, ngasisten itu sama dengan kerja paruh waktu (part-time work). Pasti mendapatkan gaji, gajinya juga dihitung dari berapa total sesi perkuliahan yang pernah kita hadiri sebagai asisten dosen. Semakin sering hadir, semakin besar “uang jajan” yang bakal di dapatkan. Dan ini bisa menjadi sebuah kebanggan tersendiri ketika bisa mendapatkan uang jajan dari perjuangan sendiri.

Itu aja yang bisa saya bagikan, kesimpulannya adalah apapun sesuatu hal atau keputusan yang udah kita pilih itu pasti ada baik dan buruknya. Yang pasti jangan takut buat mencoba.