Skip to content
Bagas' Hideout

Rumah bukan tempat bekerja

Cerita2 min read

Meskipun saya bisa dibilang anak rumahan karna jarang bahkan ga pernah main kemana-mana, tapi beberapa bulan terakhir saya merasa tidak bisa ngapa-ngapain selama dikosan. Mau mengerjakan tugas akhir nggak bisa, mengulik sesuatu yang membuat saya penasaran pun nggak bisa. Tidak bisa disini maksudnya ngga bisa fokus, selalu ada distraksi yang datang menghampiri.

Entah itu kasur, handphone, dan lainnya. Ketika saya mencoba untuk mengerjakan sesuatu, belum sampai 5 menit tiba-tiba kepala sudah berada di atas bantal dengan tangan yang sudah memegang handphone untuk berselancar ria di internet atau ber-streaming video secara online hingga akhirnya pun tertidur sampai sore, bahkan maghrib.

Sebagai catatan, saya adalah seorang mahasiswa yang berasal dari Lampung dan sedang menempuh pendidikan di Pulau Jawa tepatnya di Yogyakarta. Dan disini saya menempati sebuah kos-kosan yang berarti itu adalah rumah saya selama berada di Yogya.

Kemudian saya coba untuk mencari tempat mengerjakan tugas yang nggak perlu mengeluarkan kocek dan menyakiti dompet. Dan akhirnya saya memutuskan untuk ke lab jurusan setiap hari, karna kondisi kampus masih melakukan kuliah online dan tidak banyak bahkan tidak ada mahasiswa yang nongkrong disana.

Akhirnya saya bisa mengerjakan kembali hal yang harus saya selesaikan. Dan saya juga sering ke cafe yang lokasinya lumayan jauh dari kosan saya, karna suasananya yang sepi dan nyaman untuk bekerja.

Saya merasakan sesuatu yang berbeda ketika saya mengerjakan hal tersebut diluar rumah. Seperti ada yang memaksa saya untuk menyelesaikan pekerjaan yang harus diselesaikan, mungkin karna effort atau usaha ke tempat itu nggak gampang.

Saya harus mandi, ganti baju, memasukkan tas ke dalam laptop, menempuh jarak yang sebenarnya ngga terlalu jauh menggunakan motor setiap hari yang menghabiskan bensin, membeli segelas kopi yang harganya tidak murah, belum lagi resiko dari pandemi yang sampai saat ini masih ada.

Seperti saya harus membayar semua usaha tersebut dengan menyelesaikan pekerjaan saya. Dan dari situ fokus saya bisa terbangun, yah mungkin karna adanya alasan lain selain tujuan akhir pekerjaan itu yang membuat saya harus menyelesaikannya.

Layaknya seperti tempat sakral yang dimiliki JK Rowling, ehemm cafe yang sering dikunjunginya saat sedang menulis serial Harry Potter. Ketika saya masuk ke dalam lab jurusan atau mendatangi cafe langganan saya, secara otomatis pikiran saya siap untuk bekerja atau belajar.

Akhirnya saya memutuskan untuk tidak memaksakan diri saya untuk melakukan sebuah pekerjaan yang berat atau membuat saya berpikir keras ketika berada di kosan kecuali keadaannya mendesak atau lagi ada mood lebih untuk mengerjakan, cukup untuk beristirahat saja melepas penat seperti membaca buku, bermain game, menonton video online, dan tentu saja tidur.

Karna melakukan hal yang berat dan bukan yang diinginkan di dalam rumah akan membuatnya menjadi tempat yang membosankan dan menyebalkan kemudian akhirnya tidak lagi menjadikannya tempat untuk pulang dan menetap.

Pendapat setiap orang pasti berbeda-beda, pun juga tentang definisi rumah bagi mereka. Saya tidak keberatan, dan ini adalah tentang rumah bagi saya.