Disconnected Stories #1: a month later

Sudah hampir sebulan saya mengurangi kegiatan bersosial di dunia digital. Walaupun belum genap sebulan, tapi sudah banyak pengalaman baru yang saya dapatkan selama kurang lebih 3 minggu-an ini dengan mengurangi aktifitas di dunia digital.

Sehari sebelum tulisan ini dipublikasikan, saya mendapatkan ide untuk membuat sebuah mini-series dari tulisan saya yang menceritakan tentang pengalaman yang saya dapatkan dan kejadian-kejadian yang saya alami selama tidak aktif di dunia digital.

Mini series ini saya beri nama Disconnected Stories. Entah akan sampai berapa tulisan, tapi semoga tidak berhenti di tulisan pertama ini.

Karena pada namanya terdapat embel-embel 'mini', maka akan saya coba untuk membuat tulisan ini tidak terlalu panjang. Setidaknya bisa dibaca sampai selesai sembari sarapan, makan siang ataupun ketika bepergian menggunakan kendaraan umum.

So here we go, then.

No one 'really' cares

Tujuan saya bersosial media sejak awal adalah untuk menjaga komunikasi dengan teman-teman saya secara daring atau online. Menurut saya, komunikasi terbangun karena ada kepedulian di kedua belah pihak. Entah itu peduli dengan kabarnya, pekerjaannya, asmaranya, ataupun tentang pencapaiannya.

Dari yang awalnya kita hanya dapat menanyakan langsung tentang hal-hal di atas sampai sekarang dimana kita dapat melihat aktifitas yang mereka bagikan dan memberikan komentar kita terhadap itu. Tapi menurut saya, itu hanya peduli bukan benar-benar peduli.

Itu semua hanya basa-basi, hanya sekedar meninggalkan komentar lalu pergi begitu saja. Ibarat kata membuang kotoran, menyiram, lalu pergi. Tidak ada percakapan lanjutan ataupun diskusi yang dalam setelahnya.

Tidak ada yang 'benar-benar' peduli dengan apapun yang saya unggah disana.

Setelah selama hampir sebulan ini meninggalkan dunia digital, saya lebih banyak bercerita secara langsung atau by phone dengan orang-orang terdekat terkait apa yang saya alami dan dapatkan. Jawabannya pun sangat jauh lebih baik dan melegakan ketimbang komentar dan like yang saya dapatkan ketika mengunggahnya ke dunia digital.

Saya merasakan kalau lawan bicara saya ini benar-benar mendengarkan dan peduli dengan apa yang saya ceritakan. Lalu saya yang bergantian mendengarkan apa yang lawan bicara saya ceritakan hingga komunikasi yang dalam pun terbangun dan hubungan yang jauh lebih erat dibandingkan status follower-following di dunia digital.

Feels so lonely

Saya sering sekali merasakan kesepian setelah meninggalkan kegiatan sosial di dunia digital. Beberapa waktu yang lalu rasanya ramai sekali di kepala melihat cerita-cerita yang diunggah, sekarang terasa sepi dan membosankan. Walaupun di WhatsApp yang masih saya gunakan terdapat fitur status yang mirip seperti di instagram, tapi saya jarang sekali melihat status yang diunggah teman-teman saya disana.

Sekarang terasa seperti kehilangan banyak teman-teman yang saya temui disana, yang biasanya menyapa dengan membalas cerita mereka tapi sekarang tidak bisa.

Akhirnya kepala berpikir untuk mencari kegiatan-kegiatan baru yang dapat menghilangkan rasa bosan. Kemudian muncul banyak kegiatan baru yang saya lakukan seperti ngoprek teknologi baru, mengerjakan pekerjaan rumah, belajar memasak, kembali membaca buku setelah sekian lama tidak, menonton series anime terbaru, hingga menulis beberapa tulisan yang sampai sekarang masih menjadi draft hehe.

Semua kegiatan tersebut muncul dari pikiran yang merasakan kebosanan yang dulunya diobati dengan bermain sosial media.

Clear mind

Saya merasakan akhir-akhir ini pikiran saya menjadi lebih ringan dan tenang. Saya berusaha mengontrol informasi apa saja yang akan masuk ke kepala. Mencegah information overload seperti dulu ketika masih menggunakan sosial media. Saya pun dapat mengurangi kecemasan saya terhadap banyak hal yang menjadi musuh terbesar sejak dulu.

Saya juga jadi bisa membuat keputusan dengan tenang dan tidak terburu-buru. Merespon kejadian yang dialami dengan kepala dingin alias tidak langsung marah-marah. Tidak terlalu mengkhawatirkan hasil yang di dapatkan selama sudah melakukan usaha dengan maksimal.

Jadi bisa lebih tenang dan teliti ketika mengerjakan sesuatu.

Undivided deep focus

Ketika masih aktif di dunia digital, rasanya sulit sekali untuk tidak mengecek handphone per satu menit. Ada saja alasan yang membuat saya melakukan hal tersebut ketika sedang melakukan sesuatu. Namun sekarang saya bisa dengan tenang meninggalkan handphone di ruangan lain, tentunya dengan tetap menghidupkan dering notifikasi.

Lho, kok tetap dihidupkan notifikasinya?

Karna saat ini saya hanya menggunakan WhatsApp dan Telegram. Notifikasi yang masuk hanyalah pesan dari orang terdekat saya seperti orang tua, keluarga, teman dekat, dan rekan kerja. Jadi notabene isi pesannya penting dan itu juga tidak langsung saya baca dan balas. Saya akan baca dan balas ketika sudah senggang. Bisa dibilang slow respon tapi ga slow banget kok.

Saya coba memprioritaskan untuk menyelesaikan apa yang saya kerjakan terlebih dulu sebelum pindah ke kegiatan yang lain. Kecuali itu merupakan hal atau kegiatan yang penting dan harus segera diselesaikan.

Saya sudah mulai bisa menjaga fokus saya kembali supaya tidak terbagi-bagi dan tidak hilang begitu saja. Bahkan pernah sampai saking fokusnya sampai bisa lupa waktu.

Pas selesai ngerjain terus liat keluar kok udah gelap aja. Padahal tadi kayaknya masih terang banget deh, hahaha

Living in the moment

Sekarang saya sedang mencoba untuk menikmati momen yang terjadi saat ini. Mencoba untuk hadir di saat ini secara fisik dan pikiran. Mencoba untuk ada bagi orang-orang disekitar secara utuh pada saat ini. Saya sudah mulai bisa untuk deep talk dengan kedua orang tua saya. Entah itu urusan pertemanan, karir, bahkan asmara.

Padahal dulunya saya adalah orang yang lebih memilih untuk memendam masalah sendiri atau mengunggahnya secara online. Saya menganggap bahwa kedua orang tua saya tidak mengerti tentang masalah yang sedang saya alami. Tapi ternyata yang saya perlukan adalah menjelaskannya lebih rinci lagi dan akhirnya mereka pun mengerti dan diskusi pun terbangun.

Saya juga mulai mencoba untuk mengobrol dengan orang lain, baik itu dengan tetangga, kerabat, teman, atau mungkin kamu yang sedang membaca tulisan ini? feel free to reach me and let's have a deep talk together. Mencoba mencari tau isi pikiran mereka dan berbagi isi pikiran saya.

Mencoba melakukan setiap kegiatan dengan pikiran penuh tanpa terbagi-bagi dengan hal lain sampai kegiatan tersebut dianggap selesai. Entah itu kerjaan, hobi, atau mencoba hal baru.

More talks, less scroll. More books, less news. More moments, fewer pictures.

Penutup

Mungkin itu dulu yang bisa saya ceritakan di tulisan pertama dari mini series yang saya buat. Oiya, Alhamdulillah saat ini saya sudah mendapatkan tempat baru untuk saya berkarya. Insya Allah saya akan mulai bekerja di minggu selanjutnya sejak tulisan ini di publikasikan.

Setelah mempublikasikan tulisan ini, saya akan mempersiapkan keperluan untuk minggu depan.

Sehat selalu dan tetap semangat untuk kamu yang menyisihkan waktu berharganya untuk membaca tulisan ini.

Have a nice day! Cheers for us!

© 2022 Built with Next.js and ChakraUI. Inspired by Takuya Matsuyama's site.