Life goes on, love can wait

Pada 26 Juli kemarin, usia gue bertambah menjadi 23 tahun. Sudah dua dekade lebih gue menjalani hidup di dunia ini. Time flies so fast!

Sudah lumayan banyak pengalaman dan cerita yang gue dapatkan. Mulai dari tentang pendidikan, pekerjaan, pertemanan, dan yang pasti percintaan.

Sekilas mengingat yang dulu

Gue masih ingat kapan pertama kali gue mulai merasakan yang namanya cinta, tepatnya ketika gue masih duduk di bangku sekolah dasar. Waktu itu gue suka ke temen sekelas. Dekat tapi bisa dibilang tidak sampai pacaran. Yah, namanya juga masih kecil. Hanya sebatas mengobrol tapi lebih intens baik di dalam maupun di luar sekolah.

Kenapa masih bisa intens juga di luar sekolah?

Thanks to technology!

Pada waktu itu, gue dan teman-teman gue sudah merasakan dan memiliki telepon genggam sendiri. Jadi tetap selalu bisa keep in touch dengan teman dan orang tersayang walaupun memang dengan gaya berpesan yang terkesan alay, hehe.

Kemudian melanjutkan pendidikan ke jenjang sekolah menengah pertama, gue bertemu dengan lebih banyak orang lagi. Gue pun sempat menaruh hati kepada beberapa teman lawan jenis baik yang sekelas, tidak sekelas, bahkan beda sekolah.

Tapi jujur, gue adalah orang yang pemalu dan tidak berpenampilan bagus atau goodlooking kalau kata orang-orang sekarang. Jadi ya semua hanya berlalu begitu saja.

Ketika gue berada di bangku sekolah menengah atas, gue mulai memberanikan diri untuk mencoba mendekati seseorang yang gue suka. Akhirnya gue menjalin hubungan dengan kakak kelas yang berada dua tingkat di atas gue.

Kita sama-sama suka, namun tidak lama kemudian kita selesai karena berbeda keyakinan dan bodohnya gue malah berpikir terlalu jauh hingga memikirkan bagaimana nanti seandainya kalau dia benar-benar jodoh gue.

Setelah itu gue kembali menaruh hati pada lawan jenis, tapi kali ini kepada adik kelas. Sayangnya perasaan gue tidak berbalas, yang ada malah selalu sakit hati setiap hari. Tapi entah kenapa gue terus mengejar dia, bahkan sampai ketika gue kuliah.

Yang membuat gue lebih gila lagi untuk mengejarnya waktu itu karena ternyata dia satu kampus dengan gue. Tapi apa mau dikata. Kalau memang sudah tidak berbalas dari awal, dilanjutkan pun akan tetap sama saja hasilnya.

Tidak hidup selamanya

Dulu ketika masih sekolah, gue tidak terlalu memikirkan kedepannya gue bakal seperti apa dan menjadi apa. Karna gue masih ada dalam tanggungan orang tua, yang membuat gue selalu berada dalam mode bersenang-senang, mengurusi urusan hati, mencari lawan jenis hanya berdasarkan penampilan saja, dan cukup menjalankan kewajiban gue sebagai pelajar yakni belajar.

Ketika masuk ke dunia perkuliahan, gue bertemu dengan orang-orang baru lagi yang lingkupnya sudah bukan satu desa ataupun kecamatan lagi melainkan berasal dari berbagai provinsi. Berasal dari suku, agama, ras, dan tingkat ekonomi yang berbeda.

Berbagai pola pikir baru pun datang. Dulu gue pikir hidup hanya melulu tentang hati saja, kemudian saat ini dihadapkan dengan beberapa keadaan lain yang jauh dari urusan hati dan tentu saja lebih penting daripada itu.

Mulai mengenal dan masuk ke dalam masalah karir, keuangan, relasi, dan masih banyak lagi. Sempat merasakan transisi dari hanya mengejar yang tak pasti demi urusan hati ke arah urusan yang lebih realistis lagi.

Suatu saat nanti pasti gue akan tinggal di rumah sendiri dan berkendara dengan kendaraan sendiri. Serta tentunya dan mencukupi segala urusan keluarga baru gue nanti dan masih banyak lagi target-target pribadi yang menunggu untuk diwujudkan. Semua itu nggak akan pernah terwujud kalau gue masih terus mengejar urusan hati.

Masih banyak juga yang perlu gue benahi dari diri gue sendiri. Contohnya dari sifat dan kebiasaan. Yang gue inginkan, gue sudah menemukan dan menjadi versi terbaik dari diri sendiri ketika bertemu dengan orang yang tepat.

Sadar waktu gue terbatas dan akan terus berjalan karna gue tidak hidup selamanya.

Penutup

Sudah lelah rasanya mengejar urusan hati. Sudah banyak pengalaman tidak baik yang gue alami. Bukannya gue kapok, tapi gue harus pindah mengejar yang lain dulu.

Dulu gue kira, gue harus mencari dia yang bisa gue ajak untuk berbagi kisah bersama dan saling menjadi support system untuk gue dan dia. Tapi ternyata realitanya tidak seindah yang gue bayangkan.

Nice try buat gue, time to catch another dream birds. Sekarang gue gak perlu khawatir sama urusan percintaan gue.

Because life goes on, love can wait.

© 2022 Built with Next.js and ChakraUI. Inspired by Takuya Matsuyama's site.