Tentang permainan membanding-bandingkan

Cover image

“Comparison is the thief of joy.” Theodore Roosevelt

Sekitar 3 harian yang lalu setelah tulisan ini di publikasikan, aku mencoba membuka twitter-ku kembali. Kali ini bukan tanpa alasan, aku ingin melihat apa yang sedang dibicarakan oleh para netijen +62 yang dikenal barbar dan sensitif saat ini. Yah lebih tepatnya orang-orang terdekat yang saat ini aku ikuti.

Setelah sekitar 1 menit scrolling, akhirnya aku berhenti di tweetnya si Jerome Polin yang ini.

Yeps, sesuai ama judul dari tulisan ini. Dan yang dulu pernah aku alami (sampai sekarang juga masih kayaknya).

Tentang membanding-bandingkan diri sendiri dengan orang lain.

"Enak ya dia, udah pinter terus jadi kesayangan asdos sama dosen lagi."

"Enak banget dia bisa kumpul sama keluarganya, lha aku masih kejebak dikos."

"Ih hapenya dia udah ganti lagi, padahal baru dua bulan lalu dia ganti hape."

Dan lain-lain.

Sakit ya? Ngga enak banget ya rasanya?

Aku juga dulu pernah ngerasain kayak gitu, seolah-olah hidup mereka jauh lebih sempurna dari aku. Sampe akhirnya aku minder dan berpikir negatif tentang keadaanku yang sekarang.

Akhirnya segala cara pun dilakuin, mulai dari yang berusaha buat menyamai bahkan menyaingi hingga yang menjadi iri dan dendam.

Aku mau coba breakdown dari mulai kenapa membandingkan hingga bagaimana caranya untuk berhenti, ups ga mungkin deh kayaknya. Mengurangi menurutku adalah kata yang lebih tepat. Dan juga mengambil beberapa poin dari tulisan ini

Okay, let's begin.

Kenapa membanding-bandingkan?

Ini udah jadi sifat bawaan sejak kecil. Anak kecil belajar suatu hal dengan menirukan orang lain, lebih tepatnya teman-temannya yang ada di sekitarnya. Seperti ketika belajar membaca dan menulis. Ketika berhasil, maka dia akan merasa seperti teman-temannya yang lain. Dan ketika gagal, dia akan merasa seperti lebih rendah dari mereka.

Membanding-bandingkan adalah kemampuan sosial. Dan juga adalah bagian dari bagaimana kita belajar untuk melihat keadaan di sekitar kita. Kotak ini lebih kecil dari kotak itu, binatang itu lebih berbahaya dari yang ini, mobil ini lebih cepat dari mobil yang lain.

Studi yang dilakukan menujukkan bahwa ketika kita berpikir kalau kita lebih baik dari yang lain, kita akan merasa lebih bahagia. Dan juga sebaliknya, ketika lebih buruk dari yang lain, kita akan merasa sedih dan mengarah ke depresi.

Jadi menilai diri kita secara negatif dalam perbandingan dengan orang lain dapat mempengaruhi kita ke dalam sisi negatif. Contohnya seorang mahasiswa yang membenci kemampuannya yang baru diasah karena tidak sebanding dengan temannya yang sudah memiliki jam terbang yang banyak. Yang kemudian berujung dengan perasaan negatif seperti merasa tidak aman atau bahasa remaja jaman sekarang yaitu insecure.

Yang obatnya tentu saja adalah membandingkan dengan yang lebih buruk darinya dan atau menjatuhkan lawan perbandingannya dengan cara apapun. Yang ujungnya akan mengarah ke bullying secara verbal atau yang lebih buruk adalah terjadinya kekerasan fisik.

Namun tentu saja, setiap ada hal negatif pasti ada positifnya walau hanya sedikit. Hal positifnya adalah dapat membuka kemungkinan baru untuk melampaui si lawan kita dan memberikan kita motivasi untuk mencapai lebih dari apa yang orang lain capai.

Apa hal yang biasanya menjadi bahan perbandingan?

Ada banyak hal yang dapat menjadi bahan perbandingan dengan orang lain. Mulai dari hal berbau material seperti uang, gadget, kendaraan seperti mobil dan motor. Bahkan sampai hal yang tidak kasat mata seperti popularitas, pencapaian, perhatian dan validasi dari orang lain, hingga tentang kebahagiaan.

Yah intinya hampir semua hal bisa dibandingkan asal orang lain punya yang lebih bagus dan baik daripada milik kita.

Solusinya?

Aku nggak menjelaskan ini hanya dengan ocehan dan pendapatku sendiri, aku juga mengutip salah satu tulisan seorang dokter yang bernama Susan Biali Haas M.D. dari website Psychology Today. Beberapa juga berdasarkan pengalaman pribadi yang tentu belum sedalam orang-orang diluar sana, but i will try my best!

Menyadari dan menghindari pemicunya

Mulai menyadari situasi yang membuat kita memulai permainan banding-membandingkan. Contohnya ketika bermain sosial media. Mungkin awalnya bisa mengenali terlebih dulu apa dan siapa yang menjadi pemicunya, lalu memulai untuk mencari cara untuk menghindari pemicu tersebut.

Bisa jadi mute orang, akun, atau topik tersebut, block, atau saran terakhir adalah deaktif akun sosmedmu untuk sementara. Lalu coba ganti dengan melakukan aktivitas yang disukai atau yang menjadi keinginan yang belum terwujud, seperti olahraga, belajar mengendarai mobil, membaca buku, nonton drama korea, anime, bermain dengan kucing peliharaan. Sak karepmu!

Dan ketika suasana pikiran sudah kembali tenang atau sudah mulai bodoamat dengan pemicunya, kamu sudah bisa kembali bersosmed dengan bahagia. Happy ending!

Don't judge the book only from it's cover

Walaupun kamu sangat dekat dengan orang tersebut, kamu tidak dapat menggunakan penampilan luar dia untuk menilai kehidupannya. Bisa jadi orang yang kamu lihat dari luarnya adalah orang yang sukses tapi dibalik itu ternyata dia sedang menghadapi masalah yang lumayan besar. Who knows!

Selalu mendoakannya yang terbaik dan mengingatkan pada diri sendiri bahwa kamu tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di balik pintu yang tertutup.

Thanks God, that's enough for today! > I want more than this!

Mungkin jika kamu mencoba untuk bersyukur secara mendalam untuk semua hal baik yang terjadi dalam hidupmu, dan mengingatkan hal tersebut kepada dirimu setiap hari, kamu akan jauh dari permainan membanding-bandingkan dan iri.

Jika seseorang atau sesuatu memicu perasaan buruk tersebut, berhenti dan ingatkan dirimu tentang apa saja hal baik yang kamu lakukan dan miliki saat ini. Pasti ada banyak sekali.

Menggunakan perbandingan sebagai motivasi untuk meningkatkan kemampuan diri sendiri

Kalau misalnya saran yang pertama tadi itu menyarankan untuk mute, block, bahkan deaktif. Dan mungkin bakal banyak yang kontra karena memiliki banyak teman, koneksi, bahkan kenangan yang tersimpan di dunia maya. Mungkin bisa coba untuk perlahan memberikan pertanyaan pada diri sendiri.

Siapa sosok yang kamu kagumi dan kamu ikuti di dunia maya?

Apa jenis perbandingan yang mungkin sebenarnya sehat untukmu?

Siapa yang menginspirasi dirimu untuk menjadi lebih baik?

Habiskan waktu dan pemikiranmu yang berharga pada hal itu. Bayangkan jika kamu dapat merubah permainan membanding-bandingkan tersebut menjadi bentuk yang lebih indah. Gunakan sifat tersebut untuk menjadi orang yang lebih baik atau bahkan bisa berguna untuk orang di sekitarmu.

Penutup

Semua yang aku tulis diatas nggak semua murni dari pemikiranku sendiri. Ada juga beberapa pendapat dan hasil belajar orang lain. Karena yaa aku kan cuman manusia biasa, yang ga bisa apa-apa dan bukan siapa-siapa buatmu, iya kan?

Yah karna aku dulu pernah merasakan bahkan sampai membenci banyak orang yang ada di sekitarku karena permainan membanding-bandingkan. Sekarang pun masih seperti itu.

Menulis ini pun juga sebagai pengingat agar ngga mengulangi permainan ini atau mengubahnya menjadi suatu hal yang positif. Dan memperbanyak kegiatan yang bisa sedikit mengalihkan perhatianku dari permainan itu.

Karena "Manusia hidup membawa masalahnya sendiri" kalo kata mas Ijul. Mungkin dibalik kebahagiaan yang mereka pamerkan di dunia maya, sebenarnya mereka sedang menghadapi masalah besar dalam hidupnya.

Who knows, semoga mereka baik-baik aja!

Lebih baik mikir pas udah setara sama yang orang yang kita idolakan atau sering kita bandingkan dengan diri kita sendiri, terus selanjutnya mau ngapain lagi? Karena belum tentu lu mati setelah hal ini terjadi bukan?

Yaudah deh, mau istirahat dulu. Capek bacain riset orang yang berlembar-lembar, mau lanjut skripsian baca buku lagi.

Thanks ya dah mampir!